Tallinn to Helsinki

Standard

Selesai dari Oslo, saya melanjutkan perjalanan ke Tallinn. Dua jam dari Rygge Airport, Tallinn berbeda satu jam dari Oslo. Namun kali ini saya bukan hendak ke Tallinn. Tepatnya belum. Saya hendak ke Helsinki dulu selama dua hari, baru kemudian kembali ke Tallinn. Mengapa? Karena saya tiba di Tallinn pukul 13.20. Satu-satunya ferry ke Helsinki (dgn harga termurah, Eckero) berangkat pukul 17.00 dari Port of Tallin. Maka dari Airport Tallinn, saya naik bis nomer 2 seharga 2 euro menuju perhentian ketujuh. DIsitu saya berjalan ebeberapa menit menuju dermaga Terminal A. Ada banyak pilihan ferry yg tersedia, namun yang termurah adalah Eckero.

Saya datang ke Helsinki dari Tallinn, Estonia. Di ferry Eckero yang membawa saya dari Tallinn ke Helsinki, dua orang pemuda Estonia menghampiri saya yang sedang lesehan dengan laptop saya. Satu di antaranya, bernama Kaspar, meminta pinjam internet saya. Kami pun mengobrol-ngobrol sekenanya. Lalu dia pergi. 10 menit kemudian mereka berdua kembali lagi, dan berkata untuk perjalanan ferry selama ini, dia memilih untuk mencari teman baru saja. Dan sayalah teman baru yang dia maksud itu. Maka kami pun mengobrol lebih lanjut. Temannya Rando merekomendasikan saya untuk mengunjugi Parnu, sebuah kota pantai nan hip dan trendi di Estonia. Katanya matahari di sana sangat cerah dan klub malamnya sangat asyik. Saya sudah mendapat tiga nama. Kaspar, Rando, dan Parno (yg belakangan ternyata kota itu bernama Parnu). Nama-nama yg lucu, dan menurut saya lebih cocok untuk nama anjing penjaga nan besar dan galak. Sorry guys. Mereka berntanya, ngapain saya ke Helsinki, nggak ada yang bisa dilihat. Well, saya cuma bilang we’ll see. Mereka pun bilang saya tak perlu menginap di hostel karena mereka akan tinggal 2 minggu di Helsinki untuk bisnis. Tentu saja saya tolak dengan sopan. Kaspar pun meninggalkan nomer HP nya. Dia memaksa saya memiscall dia untuk mencadaptkan nama saya. Saya coba menghubungi nomernya dengan nomer Poland saya. Syukurlah tak bisa (pulsanya habisss). Maka mereka pun pergi dengan manis. Laptop pun kembali ke pangkuan saya dengan manisnya, dan Angga Maliq pun kembali menyanyi untuk saya dengan manisnya (di Youtube).
Beberapa menit kemudian, ferry besar itu pun merapat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s