Berlin

Standard

Akhirnya saya kembali ke Berlin, karena tahun-tahun lalu (2007-2009) saya hanya sejenak singgah di Berlin, atau hanya untuk transit. Kebetulan summercourse yang saya ikuti memiliki social programs berupa berbagai trip ke Weimar, Buchenwald, dan Berlin. Kami berangkat dari Erfurt di pagi nan cerah dengan bis selama 4 jam. Tak banyak yang saya bawa, hanya satu backpack dan satu handbag, mengingat kami hanya tiga hari di Berlin. Lagipula saya tak ingin kerepotan dengan terlalu banyak bawaan. Setelah 4 jam duduk bosan di bis, akhirnya nampaklah patung beruang penanda kami telah memasuki Berlin.
Landmark yang dilewati pertama kali adalah Brandenburger Tor. Saya ingat, saat kursus bahasa Jerman di Goethe Institut beberapa tahun silam, kami belajar cara menunjukkan jalan dan denah, dan salah satu contoh kasusnya adalah Brandenburger Tor. Saya dan teman-teman sekelas bahkan bermimpi bisa reunian dan bertemu bersama di Brandenburger Tor.

This slideshow requires JavaScript.

The Berlin Wall East Side Gallery adalah sederet tembok sepanjang 1,3 km dekat pusat Berlin. Sekitar 106 lukisan karya berbagai seniman dari seluruh dunia untuk perdamaian. Ini menjadi galeri ruang terbuka terbesar di dunia. Reruntuhan tembok bersejarah ini ada di beberapa sudut kota Berlin, namun yang paling utuh dan paling panjang adalah di East Side Gallery. Setiap petak tembok ini dilukis mural oleh para seniman dari berbagai negara. Semua bertema sama: perdamaian.
Di Check Point Charlie, kami bisa mendapatkan stempel Berlin, dan official! Dengan 7 euro saja, saya mendapatkan 16 (!) stempel Berlin! Lucu-lucu stempelnya.
Checkpoint Charlie atau Checkpoint C adalah sebutan yang diberikan pleh Sekutu Barat (Western Allies) untuk pos berbatasan antara Berlin Barat dan Berlin Timur di masa perang Dingin. Pos inilah yang memjadi saksi bisu perjuangan warga berlin untuk menyeberang (sebagian besar dari Berlin Timur ke Berlin Barat) dengan berbagai cara, legal maupun ilegal. Menengok Checkpoint Charlie Museum, digambarkan dan diceritakan berbagai macam cara ditempuh oleh para warga berlin untuk bisa menyeberang. Ada yang menyelam, menggali terowongan, menyelundupkan batitanya di tas, dan cara-cara lain yang membuat hati miris dan tersentuh oleh perjuangan para anggota-anggota keluarga yang berjuang untuk kembali utuh berkumpul.
Reruntuhan tembok Berlin menyisakan berbagai cerita untuk warganya. Runtuhnya tembok ini memberikan dampak berbagai rupa bagi individu-individu Berlin. Cerita-cerita mereka diabadikan di Museum Checkpoint Charlie. Di depan museum ada potongan kecil tembok Berlin yang penuh coretan grafiti berisi berbagai seruan menuntut kedamaian. Tak jauh dari pos bang Charlie, terdapat lagi reruntuhan tembok Berlin yang berukuran lebih besar. Banyak lubang dan retakan di tembok ini. Yang ini temboknya bersih dan tak bercat sama sekali. Di sekitar reruntuhan tembok ini, terdapat berbagai souvenir shop yang menjual kepingan-kepingan tembok Berlin. Entah asli atau palsu, namun saya sempat membelinya di Museum Checkpoint Charlie yang terjamin keasliannya. Untuk satu kepingan kecil saja dihargai 8 euro. Ckckck..
Hari kedua kami mengunjungi gedung parlemen Berlin. Reichstag, or the parliament of German Empire, dibangun tahun 1894. Di balik fasad depannya yang klasik, di dalamnya terdapat dome raksasa berdesain kontemporer, kontras dengan bagian depannya. Dari dome ini dapat dilihat pemandangan 360 derajat kota Berlin. Tangga berbentuk spiral (yang nggak bikin capek) menuntun kami sampai ke ujung kubah. Dai situ pemandangannya lebih indah lagi.
Saat diberikan waktu luang di sela-sela jadwal, saya, Wiwin dan SObia menyempatkan diri untuk mengunjungi Holocaust Museum dan Holocaust Memorial yang terletak tak jauh dari Brandenburger Tor. Dari berbagai Holocaust Memorial di berbagai negara yang sudah saya kunjungi, Berlin memiliki memorial yang paling berkesan. Konsepnya bagus, dan museumnya benar-benar inovatif dan informatif.
Di berbagai sudut kota Berlin, akan ditemukan patung beruang yang telah menjadi simbol kota Berlin. Saya pun tak pernah menyangka akan menemukan patung-patung itu di tempat-tempat yang tak direncanakan. Ini seperti mencari patung kurcaci di kota Wroclaw, krn kita harus jeli untuk bisa menemukan semua ‘koleksi’ di seluruh sudut kota. This is fun!

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s