Vilnius

Standard

Lithuania. Negara yang selama ini hanya kutahu dari berita di TV, akhirnya kukunjungi juga. Dengan bis seharga sekitar US$9 sekali jalan, saya berangkat dari Riga, Latvia. Lima jam kemudian (satu jam lebih lama dari yang dijadwalkan) saya tiba di Vilnius, ibukota Lithuania yang siang itu begitu terik menyambut saya. Yang langsung saya tuju tentu saja old town, karena saya tidak berminat dengan shopping maupun sisi modern sebuah kota.
Berbekal peta yang tak begitu rinci, saya mencoba mencapai Old Town.

Ibukota Lithuania ini adala kota terbesar di negeri ini, dengan populasi sekitar 550.000 penduduk. Kota ini mendapat namanya dari Sungai Vilnia. Vilnius diklasifikasikan sebagai Gamma global city oleh GAWC. Bersama kota Linz di Austria, Vilnius adalah European Capital of Culture 2009. Enough reason to pick this Baltic beauty.

Sejak abad pertengahan, Vilnous sudah menjadi kota multinasional. Tak kurang minoritas Polish, Jewish, Russian and Belorussian telah menjadi bagian penduduk Vilnius. Hanya sekitar 50 persen saja yang merupakan penuduk asli Lithuania. Tepatnya, 57.8% Lithuanians, 18.7% Polandia, 14% Russians, 4.0% Belarusians, 1.3% Ukrainians dan 0.5% Jews. Tadinya Vilnius memiliki populasi yahudi cukup banyak, namun semasa Perang Dunia 2 sekitar 80.000 Yahudi dibunuh di hutan Panriai oleh Nazi dan kolaborator Lithuania. Sebuah sejarah ‘standard’ karena hal ini terjadi di banyak kota di Eropa Timur. Sejarah ini saya ceritakan karena cukup mempengaruhi wajah Vilnius masa kini.

Kembali ke Old Town. Hingga masa Holocaust, sebagian besar Old Town adalah pemukiman kaum Yahudi, atau ghetto. Sebagian besar bangunan didirikan sekitar abad 13-19 M. Pada tahun 1994, Old Town Vilnius masuk ke dalam daftar UNESCO Heritage Sites.

This slideshow requires JavaScript.

Beberapa jam memutari Old Town, semakin saya sadari bahwa saya lebih banyak church hopping, menengok gereja satu ke gereja lainnya. Namun arsitektur gereja-gereja itu memang elok, dengan kecantikan desain Eropa Timur yang sedikit berbeda dengan gereja-gereja di Eropa Barat.

Hari itu Vilnius nampak lengang, dan sepertinya memang begitulah sehari-harinya. Dengan matahari yang sedang terik, biasanya bule-bule itu bermunculan di jalan menjemur badannya. Namun tidak dengan Vilnius. Dengan populasi yang hanya 550.000 jiwa (saya mengkomparasikan dengan Jakarta), memang membuat kota ini tidak crowded, dan itulah yang saya suka dalam menikmati sebuah kota.

Comments are closed.