Lombok

Standard

This slideshow requires JavaScript.


Di antara peliknya mencari waktu dan mencocokkan jadwal supaya bisa liburan berda dengan Irfan, tak disangka saat itu tiba jua. Kebetulan sekali Irfan mendapat tugas monitoring ke Lombok bersama dua orang rekannya. Atas kerja kerasnya pula dia mendapat privelege untuk memilih Lombok untuk daerah tugasnya kali ini, hanya supaya bisa membawa saya serta, hahaha. Irfan memang menyukai pantai, dan kami berdua suka snorkeling (dan saat ini sedang dalam latihan selam tiap minggu untuk mendapatkan sertifikat diving), maka Lombok adalah tujuan yang pas. Satu yang kami sesalkan adalah kesempatan untuk ke Lombok datang sebelum kami memperoleh sertifikat diving kami. Maka kali ini kami harus puas ‘hanya’ dengan snorkeling dan surfing saja di Lombok. Tak mengapa, liburan ini saja sudah sangat kami syukuri. Saat tinggal di Amerika, rasanya jauh lebih mudah untuk menjadwalkan liburan berdua dengan Irfan. Tak semudah sekarang di Jakarta saat Irfan harus kembali berkutat dengan pekerjaannya yang tak berhenti datang itu.
Maka Rabu 12 Oktober 2011 Irfan berangkat ke Lombok. Sayang hari itu saya sedang ada pemotretan di majalah Femina, sehingga baru bisa menyusulnya hari Kamis, 13 Oktober 2011. Penerbangan pukul 14.00 itu memakan waktu 1 jam 55 menit, dan Lion Air pun mendarat mulus di Lombok International Airport, airport gres yang menggantikan Bandara Selaparang yang terletak cukup tengah kota itu. Berhubung bandara baru dan internasional, banyak penduduk setempat yang mengerumuni airport nan masih mulus itu bak objek wisata. Dari BIL (Bandara Internasional Lombok) saya naik Damri untuk menuju kota Mataram. Perjalanan memakan waktu 1,5 jam untuk turun di dekat bandara Selaparang, yang kebetulan dekat dengan hotel saya. Malam itu saya menyusul Irfan di hotelnya.
Esok harinya, Jumat 14 Oktober 2011, kami menuju ke pantai terdekat (dan terpopuler di mainland Lombok), Pantai Senggigi. Dalam satu jam (!) taksi bluebird membawa kami sampai ke Senggigi. Sesampainya di sana, kami langsung pergi snorkeling. Sewa snorkel dan fins hanya Rp 30.000 sahaja. Great deal. I love my (affordable) country!
Pantai Senggigi berpasir putih, dan surprisingly tak banyak pengunjung. Mungkin karena kami tiba di siang hari bolong. Benar saja. Menjelang sore, semakin banyak pengunjung berdatangan, namun tak sampai membuat pantai sumpek. Seorang seniman tato menghampiri saya menawarkan melukis tato untuk saya. Saya yang sudah lama ingin punya tato temporer, iseng mengiyakan. Saya sudah tahu gambar apa yang saya inginkan: kupu-kupu. Dan Mas tukang tato itu menggambar lebih indah daripada ekspektasi saya. Dia melukis tangkai bunga yang merambat sampai ke jari tengah saya. Sangat cantik. Rp 30.000 hasil deal awal pun saya rasa sangatlah murah, dibanding hasilnya yang cukup masterpeace, hehe. 10 menit keudian si tato nan tebal itu mengering, dan terkelupas dengan sendirinya, dan meninggalkan kulit saya bergambar kupu-kupu yang akan hilang dalam 2 minggu. Cool.
Kembali ke snorkeling. Irfan yang terakhir kali snorkeling di Hawaii, tak sadar sering membandingkan hasil snorkelingnya kali ini dengan Pantai Waikiki atau Hanauma Bay. Kesimpulannya, Lombok tak kalah dengan Hawaii! Pasir putih, kerang dan batu2 berwarna beige berserakan di sepanjang bibir pantai, dan kami menyesal tak membawa sepatu air kami. Di sekitar tempat snorkeling, perahu-perahu warna-warni tertambat di pantaia nan mulai pasang. Di sekitar pantai banyak hotel-hotel mewah yang menyediakan lazy benches untuk berjemur. Kami sudah cukup puas dengan kain pantai kami yang sedang bertugas menjadi tikar sore itu. Selesai snorkeling, kami berjalan kaki ke Desa Seni yang menjual cindera mata dan baju-baju pantai khas Lombok. Selesai berbelanja, kami makan siang di Yessy Cafe yang tak jauh dari Desa Seni. Restoran yang ramai dikunjungi bule-bule ini menyajikan Ayam Taliwang yang cukup lezat, dan affordable. Sehabis makan siang, Wika teman Irfan baru saja sampai di senggigi. Maka kami mengurungkan niat kami untuk menuju Pantai Sira, dan Irfan menemani Wika untuk (kembali) snorkeling. sore yang jauh lebih teduh membuat suasana pantai lengang dan santai. Rasanya betah sekali duduk-duduk di situ. Namun kami tak ingin terlalu malam di Senggigi yang berada di Lombok Barat, karena besok pagi kami masih ingin berpetualang menjelajah Lombok Selatan yang tak kalah seru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s